Jumat, 30 Desember 2016

Siapakah Manusia?

Siapakah Manusia?
Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia dan yang paling sempurna yang diciptakan oleh Allah SWT, sebagaimana yang difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur’an “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam” (QS. Al-Isra :70)
Selain itu, manusia juga makhluk hidup yang dianugerahi oleh Allah SWT akal dan pikiran, manusia sudah mengetahuinya sejak zaman dahulu bahwa mereka adalah makhuk yang dapat berbicara, namun ketika para ilmuan menemukan bahwa semua makhluk hidup dapat berbicara dengan bahasanya masing-masing, maka defenisi itu diubah, yang semula manusia merupakan makhluk yang dapat berbicara, menjadi manusia : makhluk yang berakal. Sebab, manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Allah SWT yang telah dianugrahi potensi akal oleh Allah SWT, yang membuat manusia menjadi makhluk yang paling sempuran dan mulia di muka bumi ini, selain itu manusia juga satu-satunya makhluk hidup yang dianugerahi roh oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia, Sesunggunya manusia itu amat zalim dan bodoh” (QS. Al-Ahdzab ; 72) Amanat yang diberikan kepada manusia itu adalah akal dan amanat untuk mengemban kewajiban dari Allah SWT.
Jadi manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang dibebani kewajiban untuk mentaati dan mematuhi Allah dan RasulNya. Untuk itu Allah SWT memberikan kekuatan akal guna untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar, mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi manusia adalah makhluk hidup yang berakal, manusia diberikan oleh Allah SWT kemampuan untuk dapat belajar dan mengembangkan segala macam ilmu pengetahuan, karena itulah ilmu manusia akan terus bertambah dari masa ke masa. Seiring berkambangna ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh manusia, maka semakin pintar pula manusam semua pertanyaan yang ada dalam kehidupan ini dapat mereka jawab, namun ada satu pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh manusia itu sendiri, dan anehnya pertanyaan itu adalah sesuatu yang paling dekat dengan manusia itu sendiri, yaitu tentang dirinya sendiri. Seorang pakar biologi mengungkapkan : Manusia adalah sebagai pemain, dan kadangkala sebagai penonton dalam pentas sandiwara kehidupan dunia, manusia itu sendirilah keajaiban dunia yang terbesar. Manusia tidak mengetahui hakikat dirinya, dan hanya mengetahui sedikit saja rahasia kehidupan dunia yang melingkupinya.
Manusia memiliki keterbatasan dalam berfikir, menafsirkan, serta berimajinasi, dan dirinya sendiri merupakan satu bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan yang ingin dia ketahui hakikatnya. Mungkin manusia sudah mengetahui sebagian rahasia penciptaan tubuhnya, akan tetapi dimanakah akal dan ruhnya ? Dan apakah hakikat keduanya ? mereka sama sekali tidak mengetahui tentang kedua hal tersebut. Jadi, tidak seorangpun ilmuan yang dapat menjawab pertanyaan “siapakah manusia sebenarnya ??” Sejak puluha abad silam, para ilmuan telah berusaha menjawab pertanyaan ini, hingga muncullah Dr. Alexis Carerel (1973-1944), seorang ahli bedah Perancis yang melakukan studi mendalam tentang hakikat manusia, akan tetapi dia tidak mampu memahaminya persis seperti para ilmuan lainnya yang juga tidak mampu memahaminya. Pada akhirnya dia menulis sebuah buku, jika diterjemahkan berjudul “Manusia, makhluk tak dikenal”. Dalam buku itu dia menguraikan : “manusia tidak mengenali dirinya sendiri dan tifak kunjung mengenalnya hingga beberapa abad. Sampai detik inipun kita tidak mengetahui hakikat kita sebagai manusia, kecuali pengetahuan seperti yang sudah diketahui oleh seorang primitive”. “kita telah mampu merakit aneka benda dan kita sudah mengetahui segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini, kecuali diri kita sendiri. Setiap diri manusia mengandung hal-hal yang misterius”. Salah seorang ilmuan mengatakan, “ketidaktahuan kita tentang manusia akan terus berlangsung selamanya” Allah SWT memberitahu para hambanya dalam firmanNya yang artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qaaf : 16) Adakah seseorang diantara kita yang membantah firman Allah SWT yang berbunyi “Dan sesunggunya telah Kami ciptakan manusia”, lalu berkata kepadanya, tidak! Sayalah yang menciptakan manusia.
Tidak akan pernah ada seorang pun diantara kita yang membantah firmah Allah SWT tentang ini, Nah, jika suatu masalah tidak terbantahkan, maka selesailah permasalahan tersebut. Selama Allah SWT yang menciptakan manusia maka kita pasti akan menemukan rahasia-rahasia penciptaan manusia dalam kitab-Nya, yakni Al-Qur’an, dan juga wahyu yang disampaika kepada Rasul-Nya, yaitu Hadits Nabi SAW. Dalam ayat tadi Allah SWT berfirman “Dan kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya”. Bisikan dalam ayat ini berarti bisikan hati manusia yang tidak diungkap melalui lisan, atau dengan bahasa tubuh lainnya. Dalam ayat diatas Allah SWT juga berfirman “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripad urat lehernya”. Dengan kata lain, Allah SWT lebih dekat dengan manusia daripada diri manusia itu sendiri. Kita semua pasti bisa mengrtahui siapa manusai itu sebenrnya jika kita merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an, kitab Allah sang pencipta manusia, maka definisi manusia adalah :” manusia sebagai makhluk hidup yang berakal; tidak berwujud fisik; bersifat kekal -tidak bisa mati- karena roh kekal; dan tidak terbatas oleh waktu”. Manusia bukanlah fisiknya, fisik itu adalah raga manusia. Lantas manakah yang disebut manusia?? Manusia sejati adalah jati diri manusia yang senantiasa sadar, berakal, hidup, kekal, serta bersifat nonfisik.
Ketika jati diri yang tidak berwujud fisik ini dikehendaki oleh Allah SWT hidup di dunia ini, maka Allah SWT pun memberinya kenderaan yang berupa fisik, yang pas dengan kondisi medan dan kondisi lingkungan hidup di dunia ini. Dan apabila fisik yang berwujud materi itu mati, raga pun kembali menjadi tanah, asal penciptanya. Sebab ia adalah tanah yang akan kembali ke tanah. Bisa jadi jika ada yang bertanya : “Akan tetapi Allah SWT berfirman tentang manusia “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal tanah” (QS. Al-Alaq : 2) dan Dia juga berfirman “dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah” (QS. As-Sajadah :7). Nah, bukankah kedua ayat ini menunjukkan bahwa manusia adalah fisik yang diciptakan dari segumpal darah dan juga tanah??” Maka jawabannya adalah : sama sekali tidak, manusia tidak pernah diciptakan dari segumpal darah ataupun tanah kering ataupun juga tanah liat. Hanya raga manusia sajalah yang diciptakan dari tanah kering bumi ini, dan juga air, lalu campuran tanah kering dan air itu menjadi tanah liat. Ayat Al_Qur’an itu sebenarnya hanya mengungkapkan suatu hal yang parsial, yakni “raga manusia” dengan menyebutkan kata yang lebih universal, yakni “manusia”. Ini adalah merupaka bahasa sastra yang dahsyat.
Jadi Allah SWT berfirman tentang raga manusia dengan menggunakan kata “manusia”, sedangkan kata “raga” itu sendiri dihilangkan. Sedangkan firman Allah SWT yang artinya : “Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah” (QS. Al-Alaq :2). Berarti Allah SWT menciptakan raga manusia dari segumpal darah. Jadi firman Allah SWT “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah” (QS. Al-Mu’minun : 12). Maknanya adalah bahwa Allah SWT telah menciptakan tubuh manusia dari saripati tanah; berhubung ada kata “tubuh” yang dihilangkan dalam ayat tersebut. Kepada seorang sahabat, Rasulullah SAW bersabda : “Tubuhmu memiliki hak yang harus kau tunaikan”. Hadits ini menyiratkan bahwa manusia itu bukanlah raganya. Manusia adalah suatu mahluk, sementara raganya adalah suatu makhluk yang lain; raganya itu memiliki hak yang harus ditunaikan oleh si manusia. Hadits Nabi SAW ini menyebutkan hakikat manusia sebagai makhluk non fisik yang berakal, hidup, dan bersemayam pada raga. Inilah hakikat ilmiah yang baru ditemukan oleh para ulama kontemporer setelah mereka merenungkan makna dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW. Manusia hanya bisa mengetahui hakikat penciptaan dirinya apabila dia mengenali jati dirinya yang terdiri atas jiwa, akal, dan roh, itulah ketiga potensi nonfisik yang membentuk manusia sejati, yang kemudian disusun dan bersemayam dalam materi berwujud fisik, yaitu raga manusia yang hidup di dunia ini. Hakikat manusia itu tidak pernah telintas dalam benak orang-orang dan ilmuan zaman dahulu, sementara Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW telah menjelaskannya secara gambling, sebagaimana dalam firman dan hadits Nabi yang telah dituliskan diatas tadi. Allah SWT juga berfirman: “Hai manusia, apakah yang telah memberdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang maha pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan susunan tubuhmu seimbang. Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu” (QS. Al-Infithar 6-8) Makna ayat-ayat ini adalah bahwa Allah SWT berbicara kepada manusia “Hai Manusia, apakah hal yang membuatmu terperdaya dan membuatmu bermaksiat kepadaKu? Padahal Aku-lah yang telah menciptakanmu dalam bentuk yang paling baik dan sempurna dengan memberimu jiwa, roh, dan akal; lalu Kubuat penciptaanmu itu mengendarai fisik yang bersifat materi, yang berupa raga manusia yang rupanya sesuai dengan kehendak-Ku”. Karena itulah raga manusia berbeda beda antara satu dengan yang lainnya, baik warna kulitnya maupun bentuk tubuhnya, sesuai dengan kehendak dan kebijaksanaan Allah SWT.

Dalam kitab Tafsir Ruh Al-Ma’ani, Imam Al-Alusy menafsirkan makna dari firman Allah SWT “Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu”. Beliau mengatakan “Allah SWT membuatmu megendarai suatu tubuh, yaitu fisik yang dikehendaki oleh-Nya, yang masing-masing berbeda posturnya, seperti tinggi atau pendeknya,dan juga warna kulitnya. Demikianlah para ahli tafsir masa lalu mengetahui hakikat penciptaan manusia yang merupakan jati diri yang terdiri atas jiwa, ruh, dan akal; yang kemudian diberi kendaraan fisik yang bersifat materi, yaitu tubuh manusia. Naah, agar para ilmuwan mengetahui siapa sebenarnya jati diri manusia, mereka harus mengetahui hakikat jiwa, ruh, dan akal terlebih dahulu.
http://www.kompasiana.com/fikri_attamimy/siapakah-manusia-sebenarnya_5520cbb38133116c7419fc22

Sejarah Kota Surabaya


Sejarah Kota Surabaya
Menurut cerita yang beredar dimasyarakat, asal usul nama Surabaya berasal dari cerita mitos masyarakat yaitu pertempuran antara sura (ikan hiu) dan baya dan akhirnya menjadi ikon kota Surabaya. Kota Surabaya merupakan kota terbesar kedua di indonesia setelah Kota Jakarta. Surabaya sebagai ibukota Provinsi Jawa Timur, Indonesia dengan jumlah penduduk metropolisnya yang mencapai 3 juta jiwa. Surabaya merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan Indonesia timur. Surabaya juga terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan karena sejarahnya yang sangat diperhitungkan dalam perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah. Secara geografis, Kota Surabaya terletak di tepi pantai utara provinsi Jawa Timur. Wilayahnya berbatasan dengan Selat Madura di Utara dan Timur, Kabupaten Sidoarjo di Selatan, serta Kabupaten Gresik di Barat. Berikut ini dapat kita pelajari tentang sejarah kota Surabaya dari sebelum kedatangan belanda, zaman hindia belanda hingga pertempuran mempertahankan Surabaya.
1.        Sejarah Kota Surabaya Sebelum Kedatangan Belanda
       Surabaya dulunya merupakan gerbang Kerajaan Majapahit, yakni di muara Kali Mas. Bahkan hari jadi Kota Surabaya ditetapkan sebagai tanggal 31 Mei 1293. Hari itu sebenarnya merupakan hari kemenangan pasukan Majapahit yang dipimpin Raden Wijaya terhadap pasukan kerajaan Mongol utusan Kubilai Khan. Pasukan Mongol yang datang dari laut digambarkan sebagai ikan SURO (ikan hiu/berani)dan pasukan Raden Wijaya yang datang dari darat digambarkan sebagai BOYO (buaya/bahaya), jadi secara harfiah diartikan berani menghadapi bahaya yang datang mengancam. Maka hari kemenangan itu diperingati sebagai hari jadi Surabaya.
       Pada abad ke-15, Islam mulai menyebar dengan pesat di daerah Surabaya. Salah satu anggota wali sanga, Sunan Ampel, mendirikan masjid dan pesantren di daerah Ampel. Tahun 1530, Surabaya menjadi bagian dari Kesultanan Demak.
       Menyusul runtuhnya Demak, Surabaya menjadi sasaran penaklukan Kesultanan Mataram: diserbu Panembahan Senopati tahun 1598, diserang besar-besaran oleh Panembahan Seda ing Krapyak tahun 1610, diserang Sultan Agung tahun 1614. Pemblokan aliran Sungai Brantas oleh Sultan Agung akhirnya memaksa Surabaya menyerah. Tahun 1675, Trunojoyo dari Madura merebut Surabaya, namun akhirnya didepak VOC pada tahun 1677.
       Dalam perjanjian antara Paku Buwono II dan VOC pada tanggal 11 November 1743, Surabaya diserahkan penguasaannya kepada VOC.
2.        Serajah Kota Surabaya pada Zaman Hindia Belanda
Pada zaman Hindia-Belanda, Surabaya berstatus sebagai ibukota Karesidenan Surabaya, yang wilayahnya juga mencakup daerah yang kini wilayah Kabupaten Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang. Pada tahun 1905, Surabaya mendapat status kotamadya (Gemeente). Pada tahun 1926, Surabaya ditetapkan sebagai ibukota provinsi Jawa Timur. Sejak itu Surabaya berkembang menjadi kota modern terbesar kedua di Hindia-Belanda setelah Batavia.
Sebelum tahun 1900, pusat kota Surabaya hanya berkisar di sekitar Jembatan Merah saja. Sampai tahun 1920-an, tumbuh pemukiman baru seperti daerah Darmo, Gubeng, Sawahan, dan Ketabang. Pada tahun 1917 dibangun fasilitas pelabuhan modern di Surabaya.
Tanggal 3 Februari 1942, Jepang menjatuhkan bom di Surabaya. Pada bulan Maret 1942, Jepang berhasil merebut Surabaya. Surabaya kemudian menjadi sasaran serangan udara Sekutu pada tanggal 17 Mei 1944.
3.        Sejarah Kota Surabaya, Pertempuran Mempertahankan Surabaya
Setelah Perang Dunia II usai, pada 25 Oktober 1945, 6000 pasukan Inggris-India yaitu Brigade 49, Divisi 23 yang dipimpin Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby mendarat di Surabaya dengan perintah utama melucuti tentara Jepang, tentara dan milisi Indonesia. Mereka juga bertugas mengurus bekas tawanan perang dan memulangkan tentara Jepang. Pasukan Jepang menyerahkan semua senjata mereka, tetapi milisi dan lebih dari 20000 pasukan Indonesia menolak.
26 Oktober 1945, tercapai persetujuan antara Bapak Suryo, Gubernur Jawa Timur dengan Brigjen Mallaby bahwa pasukan Indonesia dan milisi tidak harus menyerahkan senjata mereka. Sayangnya terjadi salah pengertian antara pasukan Inggris di Surabaya dengan markas tentara Inggris di Jakarta yang dipimpin Letnan Jenderal Sir Philip Christison.
27 Oktober 1945, jam 11.00 siang, pesawat Dakota AU Inggris dari Jakarta menjatuhkan selebaran di Surabaya yang memerintahkan semua tentara Indonesia dan milisi untuk menyerahkan senjata. Para pimpinan tentara dan milisi Indonesia marah waktu membaca selebaran ini dan menganggap Brigjen Mallaby tidak menepati perjanjian tanggal 26 Oktober 1945.
28 Oktober 1945, pasukan Indonesia dan milisi menggempur pasukan Inggris di Surabaya. Untuk menghindari kekalahan di Surabaya, Brigjen Mallaby meminta agar Presiden RI Soekarno dan panglima pasukan Inggris Divisi 23, Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn untuk pergi ke Surabaya dan mengusahakan perdamaian.
29 Oktober 1945, Presiden Soekarno, Wapres Mohammad Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin Harahap bersama Mayjen Hawthorn pergi ke Surabaya untuk berunding. Pada siang hari, 30 Oktober 1945, dicapai persetujuan yang ditanda-tangani oleh Presiden RI Soekarno dan Panglima Divisi 23 Mayjen Hawthorn. Isi perjanjian tersebut adalah diadakan perhentian tembak menembak dan pasukan Inggris akan ditarik mundur dari Surabaya secepatnya. Mayjen Hawthorn dan ke 3 pimpinan RI meninggalkan Surabaya dan kembali ke Jakarta.
Pada sore hari, 30 Oktober 1945, Brigjen Mallaby berkeliling ke berbagai pos pasukan Inggris di Surabaya untuk memberitahukan soal persetujuan tersebut. Saat mendekati pos pasukan Inggris di gedung Internatio, dekat Jembatan merah, mobil Brigjen Mallaby dikepung oleh milisi yang sebelumnya telah mengepung gedung Internatio.
Karena mengira komandannya akan diserang oleh milisi, pasukan Inggris kompi D yang dipimpin Mayor Venu K. Gopal melepaskan tembakan ke atas untuk membubarkan para milisi. Para milisi mengira mereka diserang / ditembaki tentara Inggris dari dalam gedung Internatio dan balas menembak. Seorang perwira Inggris, Kapten R.C. Smith melemparkan granat ke arah milisi Indonesia, tetapi meleset dan malah jatuh tepat di mobil Brigjen Mallaby.
Granat meledak dan mobil terbakar. Akibatnya Brigjen Mallaby dan sopirnya tewas. Laporan awal yang diberikan pasukan Inggris di Surabaya ke markas besar pasukan Inggris di Jakarta menyebutkan Brigjen Mallaby tewas ditembak oleh milisi Indonesia.
Letjen Sir Philip Christison marah besar mendengar kabar kematian Brigjen Mallaby dan mengerahkan 24000 pasukan tambahan untuk menguasai Surabaya. 9 November 1945, Inggris menyebarkan ultimatum agar semua senjata tentara Indonesia dan milisi segera diserahkan ke tentara Inggris, tetapi ultimatum ini tidak diindahkan.
10 November 1945, Inggris mulai membom Surabaya dan perang sengit berlangsung terus menerus selama 10 hari. Dua pesawat Inggris ditembak jatuh pasukan RI dan salah seorang penumpang Brigadir Jendral Robert Guy Loder-Symonds terluka parah dan meninggal keesokan harinya.
20 November 1945, Inggris berhasil menguasai Surabaya dengan korban ribuan orang prajurit tewas. Lebih dari 20000 tentara Indonesia, milisi dan penduduk Surabaya tewas. Seluruh kota Surabaya hancur lebur.
Pertempuran ini merupakan salah satu pertempuran paling berdarah yang dialami pasukan Inggris pada dekade 1940an. Pertempuran ini menunjukkan kesungguhan Bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah.

Karena sengitnya pertempuran dan besarnya korban jiwa, setelah pertempuran ini, jumlah pasukan Inggris di Indonesia mulai dikurangi secara bertahap dan digantikan oleh pasukan Belanda. Pertempuran tanggal 10 November 1945 tersebut hingga sekarang dikenang dan diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Filosofi Gudeg


Filosofi Gudeg
Makanan tradisional berperan penting dalam ketahanan dan kemandirian pangan. Semua jenis makanan tradisional dibuat dengan potensi lokal, tidak mungkin dibuat menggunakan bahan baku impor," kata Prof. Murdijati Gardjito, peneliti di Pusat Kajian Makanan Tradisional, Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gajah Mada. Saat ini publik Jogja sepakat kalau gudeg adalah ikon kuliner mereka. Eksistensi makanan ini telah meniti jejak-jejak sejarah yang panjang, dimulai bersamaan dengan dibangunnya kerajaan Mataram Islam di Alas Mentaok yang ada di daerah Kotagede sekitar abad ke-15. Dalam arti generik, “alas” itu artinya hutan. Banyak pohon ditebang saat pembangunan itu, diantaranya adalah pohon nangka, kelapa, dan tangkil atau melinjo. Anugerah alam inilah yang menginspirasi dan mendorong para pekerja untuk membuat makanan dari bahan-bahan tersebut. Jumlah mereka banyak, lelah dan lapar, maka nangka muda (disebut “gori”) yang dimasak jumlahnya juga sangat banyak. Dari konteks historis ini, jelas gudeg tidak lahir dari rahim bourgeoisie, melainkan dari rahim proletariat, begitulah dalam kaca mata Marxisme. Gudeg kemudian menjadi salah satu ekspresi “manunggaling kawula gusti” yang memang sudah berurat akar dalam batin orang Jawa— begitu kata seorang Yesuit ahli budaya Jawa, almarhum Prof. Zoetmulder, SJ. Kebanyakan gudeg Jogja berbahan nangka muda alias gori, tetapi di kemudian hari ada yang namanya gudeg manggar, berbahan bunga kelapa yang masih sangat muda. Untuk mengaduknya, dalam bahasa Jawa dikatakan “hangudek”, menggunakan alat menyerupai dayung perahu. Dari proses “hangudeg” inilah lalu disebut “gudeg”. Dalam karya sastra Jawa “Serat Centhini”, disinggung tentang gudeg.

Diceritakan di dalamnya, somewhere in the 16th century Raden Mas Cebolang sedang singgah di pedepokan Pengeran Tembayat, somewhere in present-day Klaten, dan di sana Pangeran Tembayat menjamu tamunya yang bernama Ki Anom dengan beragam makanan, salah satunya adalah gudeg. Meskipun begitu sebelum jadi makanan tradisional yang setenar sekarang perlu proses panjang. Diungkapkan oleh Prof. Gardjito, karena gudeg perlu waktu memasak yang lama, sampai dengan awal abad ke-19 di Jogja sendiri belum begitu banyak orang berjualan gudeg. Teknologi memasak menentukan, gudeg tentu saja mengikuti perkembangan dari api tungku, ke api minyak tanah hingga api gas. Dulu itu, gudeg sering dijadikan makanan nadzar, atau wujud rasa sukur. Anak sakit akan diajak makan gudeg bila telah sembuh, misalnya. Ada bermacam lagi ungkapan syukur lainnya. Sejak Presiden Soekarno menggagas pendirian Univesitas Gajah Mada (UGM) pada dekade 1940-an, susul-menyusul institusi pendidikan lain juga didirikan, ada ASRI (ISI hari ini), ada Sanata Dharma, ada lainnya. Lalu Yogyakarta menjadi kota pelajar, gudeg juga mulai berkembang dan banyak dikenal masyarakat. Lahirnya “gudeg kering” sejalan dengan perkembangan ini, menemani perjalanan kakaknya “gudeg basah” yang lahir sejak semula. Para pelajar pendatang luar daerah yang ingin menjadikan gudeg sebagai oleh-oleh, kemudian menginspirasi hadirnya gudeg kering yang dimasak di dalam kendil agar lebih tahan lama.
Jadi bagi kalian yang ingin berlibur ke Jogja dan membawa oleh-oleh gudeg untuk kelurga di rumah, jangan khawatir lagi yaaa... karena saat ini sudah tersedia gudeg kering yang dapat dijadikan oleh-oleh dan pastinya awet hingga beberapa hari. So, jangan ragu-ragu lagi untuk menjadikan jogja sebagai destinasi liburan anda :)

Asal-Usul Rayap


Asal - Usul Rayap

Rayap adalah serangga social yang hidup dalam suatu komunitas yang disebut koloni. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk hidup lebih lama bila tidak berada dalam koloninya. Komunitas tersebut bertambah efisien dengan adanya spesialisasi (kasta) dimana masing-masing kasta mempunyai bentuk dan peran yang berada dalam kehidupannya. Dibandingkan dengan serangga social lainnya dalam hal ini semut, rayap memiliki beberapa kemiripan. Oleh karena itu, beberapa orang kerap kali menyebut rayap sebagai”semut putih”. Namun demikian perbedaan antara organism tersebut sesungguhnya cukup banyak, bahkan semut merupakan salah satu musuh utama rayap. Secara morfologi antara keduanya juga relative mudah dibedakan. 
Rayap memiliki antenna yang lurus dan berbentuk manik-manik, sedangkan semut memiliki antenna yang bentuknya menyiku. Dada dan perut rayap bergabung dengan ukuran yang hanpir sama, sedangkan dada dan perut semut bergabung dengan pinggang yang ramping. Individu rayap yang bersayap yang lazim disebut laron (sulung, alata, alates) memiliki sepasang sayap yang dalam keadaan diam cara melipatnya memanjang lurus kebelakang, seperti halnya belalang dan lipas (berbeda dengan semut yang terlipat dalam beberapa simpul, sebelum memanjang kebelakang). Sayap depan dan sayap belakang rayap memiliki bentuk ukuran, dan pola pertulangan yang serupa, sedangkan sayap depan dan sayap belakang semut memiliki bentuk, ukuran, dan pola yang berlainan. Dari segi filogenetika, semut lebih mendekati lebah atau tawon sehingga keduanya dicakup dalam ordo yang sama yaitu hymenoptera, sedangkan rayap lebih mendekati lipas dan termasuk ordo isopteran.
Kehidupan rayap sebagai serangga social juga memiliki perbedaan dengan serangga social lainnya (semut, lebah, dan tawon). Aktivitas kehidupan stadia pra-dewasa pada semut, lebah, dan tawon tidak aktif didalam koloninya, sedangkan nimfa rayap mempunyai aktivitas yang tinggi. Perbedaan lainnya adalah bahwa pada rayap, raja, dan ratu tetap hidup setelah kawin untuk bersama-sama membangun koloni yang baru walaupun umur raja tetap tidak lebih panjang dari ratunya. Perbedaan utama antara rayap dengan semut dari segi perilaku adalah dalam hal mencari makanan. Semut mencari makanan dengan cara yang lebih”terbuka”, sedangkan rayap relative “tertutup” (menutup jalur-jalur kembaranya denagn tanah). Perbedaan lain antara rayap dan semut masih sangat banyak tetapi yang pasti tidak seperti rayap yang memerlukan kayu (selulosa) sebagai makanan pokok, semut makanan pokoknya bukan kayu, tetapi macam-macam serat dan gula. Wilson (1971) memberikan gambaran yang rinci mengenai persamaan dan perbadaan antara rayap dengan serangga social lain dari ordo hymenoptera.
Proses Evolusi Rayap
Kehidupan rayap di biosfera bumi merupakan hal yang menarik untuk ditelusuri. Beberapa ahli menyatakan bahwa rayap telah hadir di bumi pada zaman Mesozoic atau akhir zaman palaeozoic. Dengan demikian, serangga ini telah ada sebalum manusia pertama menghuni bumi, sekitar 2 juta tahun yang lalu. Bahkan telah ada sebelum tumbuhan berbunga dijumpai di muka bumi. Tidaklah keliru jika dikatakan “ketika Adam dan Hawa hidup di surge, rayap telah menghuni bumi”.
Sebuah penalitian terhadap fosil rayap yang ditemukan di hutan Arizona mengungkapkan bahwa rayap telah ada sekitar 220 juta tahun yang lalu atau 100 juta tahun sebelun serangga social lainnya menghuni muka bumi. Sebelumnya, bukti tertua yang ditujukan adalah fosil rayap Uralotermes permianum yang berasal dari pegunungan ural, tetapi fosil ini diragukan berasal dari periode palaecene. Fosil rayap sejenis lainnya yaitu Valditermes brenanea jarzembouski ditemukan di Inggris bagian utara yang kemingkinan anggota Cretatemitinae dan diperhitungkan hidup sekitar 120 juta tahun yang lalu. Demikian juga fosil rayap Cretatermes carpenter anggota dari sub family Hodotermitidae yang berasal dari pertengahan periode Cretaceous. Rayap Spargotermes costalimai, anggota dari Mastotermitidae yang ditmukan di Brazil diduga berasal dari periode cretaceous. Demikian juga rayap Meiatermes araipena yang ditemukan pada deposit batu kapur di Brazil diperkirakan hidup 110 juta tahun yang lalu.
Fosil rayap dari kasta prajurit pertama kali ditemukan di Meksiko oleh Krisna dan Emerson (1983). Rayap ini merupakan anggota Mastotermitidae dan diduga dari periode Oligocene atau Miocene. Fosil rayap dari Mastotermitidae dari periode Oligocene juga ditemukan di Eropa. Selanjutnya pada periode Eocine umumnya dijumpai rayap dari Mastotermitidae dan Kalotermitidae. Sedangkan pada periode Oligocene dijumpai rayap dari Hodotermitidae, Kalotermitidae, dan Rhinotermitidae.

Para ahli menduga bahwa rayap memiliki hubungan filogenetika yang sangat dekat dengan kecoa. Beberapa pustaka bahkan menyebut rayap sebagai “kecoa social” (socialcoakroaches). Hal ini terutama ditunjukan pada rayap Mastotermes darwinensis, satu-satunya rayap primitive Mastotermitidae yang memiliki banyak persamaan dengan kecoa primitive khususnya Cryptocercidae, seperti pada venasi sayap; struktur luar segmen terakhir abdomen; anatomi internal dari organ genetalia; mandibel kasta pekerja dan imago; segmentasitarsal; serta system endokrinnya. Persamaan lai yang dijumpai adalah bahwa dari 25 jenis simbion dari golongan Flagellata hypermastigidae dan Polymastigidae dan ditemukan pada usus kecoa pemakan kayu Cryptocercus punctulatus ternyata semuanya juga dijumpai pada rayap tingkat rendah, khusus pada M. darwinensis. Di dalam siklus hidupnya nimfa Cryptocercus secara morfologis juga sangat mirip dengan rayap kasta pekerja. 

Perbedaan Mendidik dan Mengajar


Perbedaan Mendidik dan Mengajar
Bagi saya, mendidik dan mengajar memiliki pengertian mendasar yang berbeda, serta kajian-kajian referensi yang mendalam untuk mengetahui lebih dalam tentang perbedaan antara mendidik dan mengajar. Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hewan bukanlah belajar tetapi hanya dilatih, sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti.
Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anak ini sudah dewasa dan berkeluarga mereka akan mendidik anak-anaknya, begitu juga di sekolah dan perguruan tinggi, para siswa dan mahasiswa diajar oleh guru dan dosen. Menurut Paulo Freire, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, sedangkan John Dewey mengatakan bahwa pendidikan adalah proses yang dilakukan agar ada perubahan dalam masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah sebuah proses transfer dan pencarian nilai yang terjadi dilevel individu maupun masyarakat yang mengarah kepada perubahan kondisi kearah yang lebih baik.Maka sejatinya pendidikan adalah juga proses pembebasan manusia, karena telah begitu banyak penindasan terjadi diantara manusia.
Terdapat perbedaan mendasar antara mendidik dan mengajar, beberapa orang mungkin terjebak antara definisi mendidik dengan mengajar. Padahal, terdapat perbedaan yang mendasar antara keduanya. Mengajar merupakan kegiatan teknis keseharian seorang guru. Semua persiapan guru untuk mengajar bersifat teknis. Hasilnya juga dapat diukur dengan instrumen perubahan perilaku yang bersifat verbalistis. Tidak seluruh pendidikan adalah pembelajaran, sebaliknya tidak semua pembelajaran adalah pendidikan. Perbedaan antara mendidik dan mengajar sangat tipis, secara sederhana dapat dikatakan mengajar yang baik adalah mendidik. Dengan kata lain mendidik dapat menggunakan proses mengajar sebagai sarana untuk mencapai hasil yang maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan Mendidik lebih bersifat kegiatan berkerangka jangka menengah atau jangka panjang.
Hasil pendidikan tidak dapat dilihat dalam waktu dekat atau secara instan. Pendidikan merupakan kegiatan integratif olah pikir, olah rasa, dan olah karsa yang bersinergi dengan perkembangan tingkat penalaran peserta didik. Mengajar yang diikuti oleh kegiatan belajar-mengajar secara bersinergi sehingga materi yang disampaikan dapat meningkatkan wawasan keilmuwan, tumbuhnya keterampilan dan menghasilkan peru bahan sikap mental/kepribadian, sesuai dengan nilai-nilai absolute dan nilai-nilai nisbi yang berlaku di lingkungan masyarakat dan bangsa bagi anak didik adalah kegiatan mendidik. Mendidik bobotnya adalah pembentukan sikap mental atau kepribadian bagi anak didik, sedang mengajar bobotnya adalah penguasaan pengetahuan, keterampilan dan keahlian tertentu yang berlangsung bagi semua manusia pada semua usia. Contoh seorang guru matematika mengajarkan kepada anak pintar menghitung, tapi anak tersebut tidak penuh perhitungan dalam segala tindakannya, maka kegiatan guru tersebut baru sebatas mengajar belum mendidik. Tidak setiap guru mampu mendidik walaupun ia pandai mengajar, untuk menjadi pendidik guru tidak cukup menguasai materi dan keterampilan mengajar saja, tetapi perlu memahami dasar-dasar agama dan norma-norma dalam masyarakat, sehingga guru dalam pembelajaran mampu menghubungkan materi yang disampaikannya dengan sikap dan keperibadiaan yang harus tumbuh sesuai dengan ajaran agama dan norma-norma dalam masyarakat.
Jadi, jika hasil pengajaran dapat dilihat dalam waktu singkat atau paling lama tiga tahun, keluaran pendidikan tidak dapat dilihat sebagai satu hasil yang segmentatif. Hasil pendidikan tercermin dalam sikap, sifat, perilaku, tindakan, gaya menalar, gaya merespons, dan corak pengambilan keputusan peserta didik atas suatu perkara.
Penting juga mengetahui tentang Pedagogy dan Andragogy, ini adalah dua model pendekatan pendidikan menurut Paulo Freire. Pedagogy adalah metode pendekatan yang menempatkan objek pendidikannya sebagai ’anak-anak’ meskipun usia bioogisnya sudah termasuk ’dewasa’. Konsekuensinya adalah menempatkan peserta didik sebagai ’murid’ yang pasif, yang sepenuhnya menjadi objek suatu proses belajar, seperti ’guru menggurui, guru mengevaluasi, murid dievaluasi.
Sebaliknya Andragogy atau pendidikan ’orang dewasa’ adalah metode pendekatan yang menempatkan peserta didik sebagai orang dewasa, murid sebagai subjek dari sistem pendidikan yang aktif. Fungsi guru adalah sebagai ’fasilitator’ bukan menggurui, dan relasi antara guru-murid bersifat ’multicommunication’ dan seterusnya. Pendidikan juga seharusnya tidak berada jauh dengan realitas, yaitu pendidikan yang dekat dengan kondisi real masyarakat, karena pendidikan bertujuan untuk transformasi/perubahan dalam masyarakat ke arah kehidupan yang lebih baik. Pendidikan seharusnya membangun kesadaran kritis, dan mampu menciptakan ruang untuk tumbuhnya resistensi dan subversi terhadap sistem yang dominan. Sehingga pandangan pendidikan seperti itu akan melahirkan aliran pendidikan yang disebut pendidikan kritis.
Proses dalam pendidikan seharusnya dapat menjadi proses pembebasan manusia dari penindasan. Sejarah membuktikan telah begitu banyak proses penindasan terjadi terhadap manusia, bahkan hingga saat ini. Karena baik si penindas, maupun yang tertindas, sama-sama mengalami proses dehumanisasi (kehilangan kemanusiannya) karena menyalahi kodrat manusia itu sendiri. Sejatinya manusia harus dipandang dan diperlakukan sebagai seorang manusia yang memiliki hak dan kewajiban serta sama harkat dan martabatnya dengan manusia lain. Pendidikan pun seharusnya tidak menempatkan guru/pengajar sebagai subjek dan murid atau peserta belajar sebagai objek, namun, menempatkan guru/pengajar sebagai subjek (dalam hal ini fasilitator) dan murid atau perserta belajar sebagai subjek pula. Sehingga pendidikan kritis pun dapat terwujud dan menghasilkan manusia yang kritis dan mampu membawa perubahan dalam masyarakat ke arah yang lebih baik.

Jadi, Mendidik (pedagogy) yang dikatakan oleh sebagian orang sebagai pranata yang dapat menjalankan tiga fungi sekaligus. Pertama, mempersiapkan generasi muda untuk untuk memegang peranan-peranan tertentu pada masa mendatang. Kedua, mentransfer pengetahuan, sesuai dengan peranan yang diharapkan. Ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup masyarakat dan peradaban. Butir kedua dan ketiga di atas memberikan pengerian bahwa mendidik bukan hanya transfer of knowledge tetapi juga transfer of value. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi penolong bagi umat manusia. Sementara mengajar hanya pada tataran transfer of knowledge. Keteladanan adalah sikap terpuji yang semestinya melekat pada semua guru. Jadi, dengan demikian, setiap guru seharusnya menjadi model untuk mendorong pembentukan sikap terpuji peserta didik.Disinilah tugas guru bukan sekadar mengajar yang sangat teknis, melainkan mendidik untuk membentuk insan generasi muda yang berperilaku mulia, baik, jujur serta mampu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa didiknya.

Apakah Gula dan Karbohidrat Membuat Gendut?


Apakah Gula dan Karbohidrat Membuat Gendut?
Banyak orang yang menjaga tubuh tetap langsing dan sehat dengan mengurangi atau tidak mengkonsumsi daging maka bisa , bahkan dalam petunjuk-petunjuk diet negara barat pun untuk mengurangi konsumsi daging dan menambah konsumsi sayur-sayuran berserat tinggi Tetapi dalam kenyataannya di Indonesia banyak orang yang mengikuti pola diet negara barat tetapi gagal untuk melangsingkan tubuhnya. Setelah melalui pengamatan tidak susah untuk diamati bahwa sumber masalah orang Indonesia tidak 100% sama dengan orang barat.
Jika kita pergi ke restoran barat kita akan menemukan bahwa orang barat mengkonsumsi daging dan alkohol dalam jumlah yang cukup besar, permasalahan ini tidak terdapat pada orang Indonesia pada umumnya. Permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia adalah konsumsi karbohidrat dan gula yang relatif besar. Mulai dari teh manis, penambahan gula dalam jumlah cukup banyak pada masakan, jajanan manis dan juga gorengan yang dibuat dari tepung dengan jumlah minyak yang cukup besar. Jenis-jenis makanan ini lebih jarang di negara barat yang rasa nya relatif lebih tawar dibanding orang Indonesia yang lebih suka ”manis”. Yang menjadi pertanyaan banyak orang adalah apa hubungan antara karbohidrat dan gula dengan lemak yang menyebabkan kegemukan.
Karbohidrat dan glukosa adalah sumber energi utama manusia yang harus dikonsumsi secara cukup untuk menjaga aktivitas tubuh agar tidak kekurangan energi. Sisanya sebagian kecil membentuk glikogen dalam liver, sebagian lainnya dipergunakan untuk membentuk cholestrol, dan sisanya disimpan sebagai trigliseride dalam jaringan lemak.  Proses tersebut dibantu oleh hormon insulin yang diedarkan dalam darah dan merangsang jaringan-jaringan tubuh untuk menyerap dan mempergunakan gula darah.Tetapi pada saat jaringan- jaringan tersebut jenuh maka mereka tidak mampu menyerap gula darah lagi meskipun kadar insulin di dalam darah tinggi.
Adapun bahaya dari kegemukan adalah penumpukan lemak dalam pembuluh darah yang menyebabkan ia mengeras dan kehilangan kelenturannya untuk menyesuaikan kondisi dan tekanan darah yang berubah sesuai dengan aktifitas kita. Akibatnya adalah penyumbatan pembuluh darah yang bisa menyebabkan jantung dan stroke embolic. Atau mudah pecahnya pembuluh darah yang akan mengakibat stroke perdarahan. Dan juga diabetes tipe 2 yang akan menyebabkan berbagai kerusakan padaorgan dalam(misal: syaraf, mata, ginjal, jantung dan pembuluh darah, dll)
Adapun diet dengan mengurangi konsumsi gula dan karbohidrat ini pernah dikemukakan oleh seorang spesialist jantung USA Dr. Robert Atkins dimana dia berhasil mengobati dirinya sendiri dari obesitas yang dideritanya. Tetapi mendapat tentangan dari dokter-dokter lain pada waktu itu. Tetapi sekarang waktu telah membuktikan bahwa cara dietnya tetap paling efektif untuk mengatasi obesitas dan penyakit lain yang dihasilkan olehnya. Sekarang diet ini dikenal dengan nama Atkins diet.

Oleh karena itu selain membatasi konsumsi lemak dari daging dan minyak ada baiknya kita mencoba untuk mengurangi konsumsi gula dan karbohidrat dari gorengan tepung ataupun kerupuk. Perbanyaklah  memakan daging tanpa lemak, sayur mayur, dan yang tidak kalah penting adalah olahraga untuk menggunakan cadangan kalori kita yang berlebihan sehingga tidak menumpuk sebagai lemak. Mencegah adalah lebih baik daripada mengobati. Karena sesuatu yang telah rusak tak akan bisa kembali sempurna seperti yang baru.

Mengapa Rambut Menjadi Putih


Mengapa Rambut Menjadi Putih
Rambut semasa muda kita berwarna hitam gelap namun semua berubah warna menjadi putih dan abu-abu ketika kita tua sering disebut dengan rambut uban. Lalu, mengapa rambut kita beruban?
Rambut adalah bagian dari diri manusia yang dapat memperindah tampilan, tapi ketika usia bertambah warna rambut pun semakin berubah. Rambut menjadi abu-abu atau putih biasa disebut dengan rambut uban, rambut uban adalah hasil dari kurang melanin dalam keratin yang ada pada rambut.
Keratin adalah sel-sel protein yang membentuk rambut kita. Semakin rambut seseorang menjadi warna abu-abu itu menandakan bahwa Ia kekurangan melanin pada rambutnya. Kebanyakan orang berpikir bahwa rambut beruban adalah proses alami yang terjadi pada saat kita menjadi tua. Seperti yang kita ketahui ketika bertambah tua melanosit menjadi tidak aktif, namun melanosit tetap ada hanya saja tidak lagi memproduksi melanin.
Semakin tua jumlah melanosit semakin menurun, hal ini menyebabnya kurangnya melanin dan lama kelamaan rambut kita menjadi abu-abu dan memutih. Pada bulan Februari 2005, para ilmuwan Harvard mengusulkan teori mengapa melanosit menurun seiring dengan bertambahnya usia. Mereka menemukan bahwa kegagalan melanosit sel induk adalah penyebabnya. Sel-sel induk ini berhenti memproduksi jumlah yang memadai melanosit untuk mempertahankan warna rambut.
Pada tahun 2009 ilmuwan Eropa menemukan faktor lain, mereka menemukan bahwa folikel rambut memproduksi hidrogen peroksida dalam jumlah kecil. Sebagaimana yang kita tahu, jika kita menggunakan hidrogen peroksida pada rambut kita itu akan membuat rambut kita lebih ringan. Hidrogen peroksida dipecah oleh enzim katalase. Semakin kita bertambah usia produksi katalase semakin berkurang, hasilnya adalah munculnya hidrogen peroksida yang bisa mengahmbat melanin memproduksi melanosit.
Hal lainnya yang bisa menyebabkan rambut berubah menjadi beruban seperti cacat genetik, produksi hormon yang abnormal seperti stress mendadak atau kronis, distribusi melanin pada tubuh yang tidak normal dan juga faktor iklim bisa menyebabkan rambut kita beruban, seperti polusi, racun dan paparan bahan kimia.